Langsung ke konten utama

MTs Nur Iman Mlangi: Menjaga Tradisi Pesantren di Era Modern

 

MTs Nur Iman Mlangi: Menjaga Tradisi
Pesantren di Era Modern

Oleh: Muhammad Irfan Zidni

(Alumni MTs Nur Iman Mlangi, Mahasiswa Al-Azhar, Kairo, Mesir)

Masjid Pathok Negoro Mlangi

Mlangi: Kota Santri dan Jejak Sejarah Mbah Kyai Nur Iman

Mlangi, sebuah dusun di wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, telah lama dikenal sebagai Kota Santri. Nama ini melekat karena banyaknya pondok pesantren yang tumbuh di sini, menjadi pusat pembelajaran Islam sejak zaman dahulu. Di balik kemasyhuran Mlangi, terdapat sosok Mbah Kyai Nur Iman, yang juga dikenal sebagai RM Sandiyo, putra pertama dari Raja Amangkurat IV dan cucu Untung Suropati, pahlawan nasional yang bergelar Adipati Wiranegoro.

RM Sandiyo, setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan mendirikan pesantren di Mlangi. Ia menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan pondok pesantren yang kemudian menjadi dasar bagi Mlangi sebagai pusat pendidikan Islam. Hingga kini, warisan pendidikan ini masih terasa, dengan delapan pondok pesantren utama yang berada di bawah naungan Yayasan Nur Iman Mlangi.

Pendirian MTs Nur Iman Mlangi

Pada tahun 2015, Yayasan Nur Iman Mlangi yang dipimpin oleh *Dr. KH. Tamyiz Mukharrom, M.A., bersama para pengasuh delapan pondok pesantren di Mlangi, memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan formal. Delapan pesantren ini termasuk Pondok Pesantren Al-Miftah, Al-Falahiyyah, Al-Huda, Al-Salimiyah, An-Nasyath, Mlangi Timur, Al-Mahbubiyah, dan Aswaja Nusantara. Mereka menyadari perlunya lembaga formal yang dapat menjawab kebutuhan pendidikan di era modern tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.

Keputusan untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nur Iman diambil melalui musyawarah. Nama "Nur Iman" diambil sebagai penghormatan terhadap Mbah Kyai Nur Iman, sosok sentral dalam sejarah pendidikan Islam di Mlangi. Pada awalnya, madrasah ini hanya memiliki 33 siswa pada tahun ajaran 2015/2016, dan memperoleh izin operasional pada 23 Mei 2016.

Logo MTs Nur Iman Mlangi

Peran Santri dalam Pendirian dan Pengembangan MTs Nur Iman

Peran teknis dalam pendirian dan operasional MTs Nur Iman yaitu Bapak Ahmad Faozi, seorang santri dari Pondok Pesantren Al-Falahiyyah. Berdasarkan dawuh Mbah Nyai Rubai'ah, ibu dari KH. Rifqi Aziz Maksum, Bapak Faozi ditunjuk untuk mengurus seluruh aspek perizinan dan pengelolaan MTs Nur Iman. Berkat kepemimpinannya, madrasah ini berkembang pesat, tetap berakar pada nilai-nilai pesantren sambil merespons kebutuhan zaman modern.

Bapak Faozi, yang aktif dalam badan otonomi NU sejak SMP, melihat perlunya inovasi dalam struktur organisasi siswa di MTs Nur Iman. Ia menetapkan OSIS dengan PK IPNU-IPPNU sebagai organisasi siswa resmi sejak MTs Nur Iman mulai berdiri pada 2015. Hal ini dilakukan agar siswa terlibat dalam kegiatan keorganisasian NU sejak dini, melalui jenjang kaderisasi yang sistematis. Siswa MTs Nur Iman diajak mengikuti program MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota), sebuah program kaderisasi IPNU-IPPNU yang berfungsi untuk memperkenalkan mereka pada nilai dan sejarah NU.

Tak hanya itu, Bapak Faozi juga memasukkan mata pelajaran Ke-NU-an dalam kurikulum MTs Nur Iman. Hal ini menjadikan madrasah ini unik dibandingkan lembaga pendidikan formal lainnya, karena siswa MTs Nur Iman dibekali dengan pemahaman mendalam tentang NU, sejarahnya, dan kontribusinya bagi umat Islam di Indonesia.

Kepemimpinan dan Dukungan Para Tenaga Pendidik

MTs Nur Iman tak lepas dari peran para tenaga pendidik yang berdedikasi. Bapak Aminullah, sebagai kepala sekolah saat ini, berhasil memimpin lembaga ini dengan penuh komitmen. Di sisi lain, dukungan juga datang dari Ibu Wahyu yang mengurusi bidang kesiswaan, serta para pendahulu seperti Bapak Wisnu dan Bapak Minan Zuhri yang merupakan waka kurikulum pertama MTs Nur Iman. Keberhasilan MTs Nur Iman dalam melahirkan siswa-siswa berprestasi tidak terlepas dari kolaborasi yang solid antara kepemimpinan dan dukungan para tenaga pendidik.

Prestasi dan Pengakuan Alumni

Sebagai salah satu alumni, saya, Muhammad Irfan Zidni, sangat merasakan bagaimana peran para guru dalam memberikan dukungan yang tiada henti. Selama saya belajar di MTs Nur Iman, motivasi dan bimbingan mereka sangat membantu dalam pencapaian akademik saya. Kegigihan dan keikhlasan para guru, terutama dari Bapak Faozi serta Ibu Mariyatul Qibtiyah menjadi salah satu faktor utama saya bersama peserta didik lain dalam meraih beberapa prestasi. Satu di antara prestasi yang saya capai adalah menjadi juara Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat Provinsi, yang membawa saya hingga ke tingkat Nasional.

Kini, saya melanjutkan studi dengan beasiswa di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, tanpa melupakan kontribusi MTs Nur Iman dalam membentuk karakter dan pengetahuan saya. Saya juga merupakan santri dari Pondok Pesantren An-Nasyath, salah satu dari delapan pesantren di bawah Yayasan Nur Iman Mlangi, yang mana berperan penting juga dalam pendidikan keagamaan dan akhlak.

MTs Nur Iman tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga generasi yang berakhlak mulia, berpegang pada nilai-nilai pesantren dan NU. Dukungan dari guru-guru seperti Bapak Faozi dan tenaga pendidik lainnya menjadi fondasi yang kokoh bagi keberhasilan kami sebagai alumni.

Kesimpulan

MTs Nur Iman Mlangi merupakan bukti nyata bahwa pendidikan formal yang berbasis pesantren dapat menjawab tantangan modern tanpa harus mengorbankan tradisi. Dengan sistem pendidikan yang diinisiasi oleh Bapak Ahmad Faozi, serta dukungan dari para pengasuh pondok pesantren di Mlangi, MTs Nur Iman terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang unggul, baik dalam prestasi akademik maupun pembentukan karakter santri.

Inovasi yang dilakukan seperti penggunaan PK IPNU-IPPNU sebagai organisasi siswa, serta pengajaran mata pelajaran Ke-NU-an, menjadikan MTs Nur Iman unik dan tetap berakar kuat pada tradisi pesantren. Dalam konteks ini, MTs Nur Iman Mlangi bukan hanya sebuah madrasah, tetapi juga merupakan pusat pembentukan generasi khairu ummah, umat terbaik yang berakhlakul karimah, siap membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Panduan Lapor Pendidikan (Lapdik) Bagi Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir)

Lapor pendidikan atau Lapdik merupakan proses pelaporan status pendidikan seseorang kepada pihak KBRI bagian Atase Pendidikan Dan Kebudayaan (Atdikbud). Fungsi dari Lapdik adalah agar status kita dalam pendidikan tercatat secara resmi dan membantu kita dalam berbagai permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan kita di luar negeri. Di samping itu sebagai mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir -atau sering disebut dengan istilah Masisir-, banyak proses administrasi yang menyaratkan Lapdik terlebih dahulu seperti saat pengurusan iqomah (izin tinggal) atau untuk mendaftarkan program Temus (panitia haji). Berikut merupakan langkah² dalam proses Lapdik bagi para masisir  1. Menyiapkan 2 berkas berikut a) Paspor aktif b) Tanda muqoyyad di universitas/dauroh lughoh ( bisa berupa tadaruj dirosi ataupun nama muqoyyad dalam daftar nama ujian dan ditebalai menggunakan stabilo ) 2. Datang ke kantor konsuler yang berada di Hay Asyir sesuai jadwal yang ada yakni *Jadwal Pelayanan* *مواعيد ...

BARANG BAWAAN YANG HARUS DIBAWA UNTUK MAHASISWA INDONESIA MESIR

 Sudahkah kalian mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke mesir? Merupakan hal wajib bagi pelajar, tenaga kerja, ataupun turis yang akan berkunjung ke negara lain agar membawa barang bawaan setidaknya sebagai bekal dalam masa awal tinggal di negara tujuan. Pembahasan kali ini hanya mengerucut pada persiapan bagi para pelajar yang akan mengenyam pendidikan di negri Kinanah. Blog ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya sebelum  pemberangkatan saya ke Mesir. Berikut saya tampilkan tabel barang bawaan saya secara detail saat pemberangkatan : Menurut saya ada 2 hal berikut yang perlu diperhatikan mengenai barang-barang yang akan kalian bawa : Biasanya awal kedatangan para masisir bertepatan dengan suhu dingin Mesir. Untuk itu sangat dianjurkan membawa persiapan untuk musim dingin terlebih dahulu. Hampir seluruh masisir yang baru datang akan mengalami gatal-gatal yang muncul akibat perubahan suhu dan kelembaban udara antara 2 negara dan sebagai reaksi tubuh dalam p...

MENGATASI RASA IRI DI HATI

  Jika dianalisa, apakah penyebab seseorang memiliki rasa iri?  Begitu banyak orang di luaran sana yang memiliki kemampuan ataupun kapasitas yang jauh melebihi seseorang yang menjadi objek rasa iri hatinya. Sebagai contoh jika rasa irinya itu menyangkut aspek jabatan, mengapa presiden, raja-raja, ketua organisasi, dsb, tidak menjadi objek keiriannya. Malah orang-orang terdekatnya yang mungkin hanya menempati jabatan yang terbilang rendah seperti pakcamat, walikota, bahkan gubernur menjadikan tumbuhnya rasa iri.  Perbedaan serta alasan dari problem tersebut bukanlah karena rendah tinggi jabatan, namun lebih karena kedekatan orang tersebut dengan kita sebagai seorang yang menderita rasa iri dihati.  Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk mengatasi rasa iri yang tumbuh berdasar sebab diatas  Tanamkan kesadaran bahwa Allah memang menciptakan perbedaan dalam diri manusia serta meninggikan derajat sebagian manusia atas manusia lain. Contohnya seorang Nabi saat diban...